Pluralisme Sejati didasari oleh kejujuran. Kebohongan adalah dasar bagi seluruh penderitaan masyarakat. Didasari kejujuran, masyarakat hidup dengan pertimbangan yang benar, memilih atau menolak yang merugikan atau menguntungkannya. Kejujuran menghindarkan merugikan orang lain.
Ketika suami berselingkuh, ia harus jujur pada isterinya, hak isterinya untuk menerima atau menolak perilaku itu, demikian pula isteri. Penderita AID harus jujur akan penderitaannya, jangan sampai ia menularkan pada orang yang tidak menginginkannya. Politikus jangan mengatakan “memperjuangkan rakyat” kecuali menyebutkan siapa rakyat yang dipejuangkan itu (yang pro atau yang kontra?). Pornoer, biarkanlah mereka beradegan mesum, tetapi mereka harus jujur, tidak membohogi orang lain.
Jangan berbohong, karena sekali seseorang berbohong, ia tidak lagi dapat menjadi jujur, sekalipun ia jujur akan kebohongannya, ia tetap pembohong, bukankah ia jujur-bohong = benar pembohong, dan tidak akan pernah menjadi jujur meskipun ia sudah jujur bohong = benar bohong.
Pluralisme Sejati, tidak merugikan orang, meskipun kita tidak menyukai perilaku mereka.
Filed under: Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pluralisme Sejati adalah sebuah paham yang sangat menghargai seluruh keragaman pandangan selama tidak merugikanorang lain. Keterbukaan, transparansi amat-lah diperlukan untuk mendukung paham ini. Paham ini tidak ingin merugikan siapapun dan menegakkan hak bagi siapapun.
Penganut pluralisme selalu mendengungkan bahwa kebenaran itu beragam, dan kebenaran beragam itulah yang benar. Artinya, pandangan kebenaran tunggal adalah keliru. Inilah yang logika yang membatalkan asumsinya sendiri, karena paham kebenaran tunggal dan kebenaran plural, keduanya adalah keragaman.